Latest Post

Mengenang Tragedy Semanggi '98


SEMANGGI TRAGEDY
FRIDAY & SATURDAY, NOVEMBER 13-14, 1998





Warning!. Tulisan ini sedikit gue edit untuk menghindari hal-hal yang sensitif. Selebihnya apa adanya sesuai tulisan yang gue tulis pada waktu itu untuk menjaga ruh emosionalnya, selamat bernostalgila :).

Catatan :

  1. Yang ikut demo dari RISKA dengan jaket almamater kampus masing-masing namun menjadi satu rombangan anak Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) Menteng-Jakarta Pusat: Ahyoni, Faisal Rifky, Mila Novrita, bang Anto (alm), kak Vivi, kak Ana, kak Mutia, teh Dewi, Pujianto, Ardi, (Ika dan Mutia – teman kak Vivi).
  2. Anak RISKA yang lain dan senior: Setiawan, Arief, Uung, bang Ical (Faisal Motik). Bang Faisal Motik dan Faisal Rifky sering sama-sama disebut sebagai Ical, yang membedakan di kalangan anak RISKA yang masih aktif, Faisal Motik disapa dengan bang Ical, sementara Faisal Rifky disapa dengan Ical saja.
  3. Cerita pengalaman ini adalah dalam kontek anak RISKA, namun semoga tetap relevan dan bisa dinikmati kalangan umum sebagai serpihan puzzle dari perjuangan anak bangsa dalam pergolakan reformasi.
  4. Cerita ini adalah berdasarkan yang gue alami melalui mata dan telinga yang sangat terbatas, jadi jika ada pelaku peristiwa yang mengetahui persis dan kembali tersegarkan memorinya pada waktu itu silahkan membenarkan jika ada gambaran peristiwa yang kurang akurat.
  5. Gue minta maaf atas ungkapan emosi waktu itu yang menulis keparat sebagai pengganti nama personil keamanan yang gue anggap berlawanan dengan pergerakan mahasiswa waktu itu. Perlahan gue sadar bisa bandingkan aparat dan oknum dan kembali cinta tanah ari sepulang dari Ethiopia August 1998.
  6. Photo dari berbagai sumber sekedar gambaran karena tidak diketahui persis lokasinya.

(Tulisan ini gue tulis sambil dengan perasaan pilu mendengarkan lagu Gugur Bunga yang selalu dikumandangkan radio, ditulis secara terpisah, separoh persis saat kejadian, ketika kami terdampar di lantai dua di belakang ruang operasi, rumah sakit Jakarta)

Semangat berjuang dan rasa ingin tahuku sejak mahasiswa yang lain sudah mulai demo pada awal-awal sidang istimewa cukup ngotot, namun keinginanku diurungkan karena gue fikir lihat hasil keputusannya (Sidang Istimewa-red) dahulu, namun yang terjadi adalah gue jadi gregetan ngelihat teman-teman udah pada demo karena ternyata hasil siding istimewa masih berbentuk dagelan politik yang masih ingin menampilkan adengan-adengan yang membuat para Iblis penggoda anak Adam ini semakin ngakak.

Sore hari Kamis Nov 12, 1998 kami memang udah janjian kalau kami ingin ikut demo, niatnya sich pengen lihat saja, tapi harus bawa jaket almamater masing-masing.

Ketika bumi yang gue diami menunjukkan pagi Jum’at, sengaja setelah sholat subuh gue berusaha tidak tidur karena gue pengen tahu perkembangan sedetil mungkin. Dengan malas-malasan sambil batuk-batuk gue nonton hikmah Fajar RCTI bersama Nenek. Gue masih memakai kaos lengan panjang putih dan blue jeans. Pagi ini sebetulnya gue merasa sangat malas sekali karena tulang ikan yang masih bertahan di kerongkongan gue belum juga mau berkompromi, meskipun sudah banyak makanan yang kutelan bulat-bulat tapi tetap tidak bisa dikompromikan. Sambil menahan tidur akhirnya gue berhasil juga ngikuti semua rangkaian berita dari berbagai stasiun TV, bahkan karena malasnya bangun gue bertahan hingga acara Nuansa Musik yang ditanyangkan RCTI.




Sekitar jam 09:40 gue pamit ama nenek mau ke British Council, tapi karena gue ingat ternyata gue ada janjian untuk ketemu bang Ical maka niatku yang tadinya menuju halte bus ku belokkan ke RISKA, di sini gue ketemu Faisal Rifky yang memang sudah menunggu.

Setiawan datang kira-kira 10:20 disusul Ardi dan kamipun segera menuju rumah bang Ical, di sana kami disambut dengan hangat karena rupanya bang Ical udah siap menunggu, para pembaca yang budiman, berikut pokok fikiran yang gue ciduk pada pertemuan ini:

  1.  Tentang keterlibatan berbagai LSM dan mahasiswa dalam pergulatan Sidang Istimewa yang kontra, maka bang Ical menegaskan bahwa RISKA berpolitik melalui High Politic (dengan hurup P capital) yang kita perjuangkan adalah Cultural Changing, biar saja remaja masjid lain bilang RISKA banci, LSM Islam bilang kita pengecut, kita tetap diam, karena perjuangan kita adalah budaya, kita akan merobah pola fikir masyarakat, terutama muslim, kita tidak usaha menyatakan statement, jalan baik bagi kita adalah diam, tapi kalau gue masih muda kayak lho gue juga mau ikut demo, biar bisa ngerasain kayak apa ngelihat orang berdarah-darah dengan mata kepala sendiri, kan beda dengan ngelihat di TV, kalian kalau mau demo, demo saja but it’s your own risk, jangan bawa nama RISKA, tentang pernyataan Gus Dur yang menyatakan bahwa dalang semua ini adalah ES yang sempat bikin telinga Egi Sujana panas, ke-GR-an, ternyata versi bang Ical menyatakan bahwa  yang dimaksud adalah Eyang Soeharto, sambil berseloroh bang Ical bilang “Gue kalau bisa jadi pendekar gue pengen masuk ke......................krek” 
  2. Tentang beberapa LSM Islam yang ikut Pam Swakarsa, bang Ical balik bertanya “Islam yang mana?!” ketika Ardi bertanya bahwa hampir semua LSM Islam pada ikutan Pam Swakarsa, “itukan mereka dimanfa’atin, sampai sekarang RISKA itu belum ada yang bisa pegang, tiap ada yang mau masuk pada mental” tambah bang Ical.
  3. Sidang Istimewa masih tarik ulur, karena? “Kayak lho misalnya gue sekolahin, gue bayarin segala macam apa tega lho mau ngancurin gue?!”
  4.    ...............mau nyapu tapi sapunya kotor
  5. Tentang RISKA bang Ical titip satu pokok fikiran persoalan: SDTNI (salah satu unit belajar di RISKA) harus dinetralisir karena sudah terjadi Islam aliran (ke Hasan Albanaan) untuk merubah itu tidak perlu kita cut, melainkan kerjasama dengan IAIN dan kajian islam yang lebih tinggi.


Bubar dari rumah bang Ical ketika adzan Jum’at berkumandang, padahal saya masih punya pertanyaan tentang kebijakan internasional RISKA, karena saya fikir scope RISKA mau tidak mau akan kena imbas globalisasi.

Setelah Jum’atan gue pulang ke rumah buat ngambil jaket almamater, karena gue lupa mau bawa sejak awal, sebab tas gue sudah penuh. Setelah makan nenek sempat nanya ngapain gue bawa jaket almamater segala?. , Mau demo ya?, pertanyaan ini gue jawab dengan alasan bahwa “Yoni mau nyebarin proposal, tapi karena situasi yang tidak pasti, buat jaga-jaga jadi bawak jaket almamater” Jawabku.

Sampai di RISKA sudah ada Arief dan Uung dari Fotografy, tapi karena kelamaan menunggu yang lain, akhirnya mereka jalan duluan, maka tinggallah rekan-rekan yang ikut demo di rombongan kami. Dengan jumlah 12 orang kami berjalan menuju halte di samping gereja di seberang Taman Soeropati sambil sesekali ketawa karena melihat tas kemping gue yang penuh dengan amunisi perut, mulai dari air sampai roti kering, kue kencur dari Jawa yang ternyata sangat membantu untuk mengganjal perut selama demo. Dan yang sangat disayangkan adalah dua buah mangga yang hanya sempat dimakan satu, sedang satunya lagi rahib entah ke mana setelah berada di kampus Atmajaya setelah dikejar keparat (ini istilah saya pada waktu demo untuk sebutan aparat).

Sambil menunggu bus di halte di seberang taman, kami masih bercandaria. Tas gue yang persis gaya kemping senantiasa jadi ledekan teman-teman, karena udah penuh dengan perlengkapan antisipasi, terutama amunisi perut yang sebagian mendapat tambahan dari para kakak-kakak gue yang cewek belanja dulu ke Hero Menteng, di samping itu masih ada yang sempat bilang “kita naik taxi aja yuk” karena memang bus yang lewat sudah mulai berkurang.

Akhirnya ada bus AC yang lewat Sudirman, maka kami segera naik dengan hanya membayar Rp 1,000/orang. Awalnya semua kursi tampak penuh, tapi syukur kakak-kakak gue yang cewek pada dapat duduk semua, karena beberapa penumpang turun sekitar Arthaloka dan Hotel Syahid.

Gue sempat memperhatikan bahwa para penumpang cukup antusias dengan mengetahui bahwa kami akan bergabung dengan mahasiswa yang sudah demo. Dari belakang gue dengar percakapan bang Anto yang ternyata lawan bicaranya adalah rekan mahasiswa juga dengan beberapa temannya, gue kurang jelas menangkap pembicaraannya, namun yang jelas kami lagi bersemangat untuk bergabung sesegera mungkin di Semanggi.




Bus yang kami tumpangi mulai mendekati sasaran, walaupun dengan sedikit macet, dan kami hampir memutuskan untuk turun, tapi mencoba bertahan dan akhirnya diketahui ternyata bus dan kendaraan umum lainnya tidak dimungkinkan lagi untuk melaju lurus melalui Jl.Jen. Soedirman karena gerakan mahasiswa yang ingin mengarah ke Senayan sudah diblok keparat di bawah jembatan Semanggi. Maka kami putuskan untuk turun setelah mengetahui bahwa bus yang kami tumpangi mengarah ke kiri sebelum gedung bank Danamond yang termegah di Jakarta ini. Jiwa muda gue yang bergelora, haru dan berbagai perasaan bercampur menyelimuti hati kecilku, serta beberapa pertanyaan di antaranya – inikah sa’atnya yang kedua kali setelah demo menurunkan Soeharto ikut menentukan nasib bangsa ini?, sa’at ini pula gue ingat semua keluarga, teman dekat dan termasuk teman-teman mancanegara, sebab gue yakin mereka semua adalah komponen masa depan gue, termasuk Shoko Miyahara, karena ia selalu berpesan jika berdemo dia berharap agar gue tidak melawan rasional dan kata hati kecil, tapi dengan niat membersihkan Indonesia yang sedikit kotor ini, dengan sapu yang bersih, maka gue lupakan semuanya dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiiim, dengan yakin bahwa Allah bersama gue sambil membaca Al-Fatihah yang gue kirim ke Rasulullah dan dengan mantap gue melangkah menuju gerombolan mahasiswa yang sudah memenuhi Jl. Jen. Soedirman sejak di bawah jembatan penyeberangan hingga di bawah jembatan Semanggi. Karena untuk memantapkan keselamatan untuk kami semua maka gue baca Asmaaulhusna yang gue hafal ketika disuruh ustadz waktu pertama gue masuk pesantren dulu.

Kami melangkah maju dengan leluasanya di jalan aspal yang luas itu, yang semestinya kalau hari biasa mustahil kami lakukan, hanya ada beberapa sepeda motor yang mondar mandir, entah itu tukang ojek, mahasiswa, wartawan atau masyarakat yang kebetulan lewat pengen tahu.

Persis kami  melangkah melewati gedung Bank Danamond dan mendekat ke arah kampus Atmajaya, Adzan Asyar berkumandang dari arah belakang sebelah kiri bang Danamond yang gue ketahui setelah habis sholat Asyar, ternyata itu masjid termasuk cagar budaya yang dilindungi karena sudah lahir sejak zaman Belanda dan memakai arsitektur Cina.

Melihat jarak mimbar orasi yang kurang lebih berjarak 100m dari kami, maka dengan semangat ingin tahu kami segera disambut oleh rekan-rekan mahasiswa yang lain untuk bergabung. Kurang jelas apa yang menyebabkannya, yang jelas gue melihat bahwa rekan mahasiswa yang berada di garis paling luar memperketat barisan sambil menggandengkan tangan berlari bergeser ke arah Utara, ini ternyata dilakukan untuk memisahkan antara mahasiswa dan massa, apalagi pasukan pengaman (Pam) Swakarsa yang konon merupakan kena makan keinginan Orde Baru yang ingin memecah belah mahasiswa dengan rakyat, karena ternyata Pam Swakarsa ini banyak memanfa’atkan para pengangguran dan mendapat bayaran.

Kurang lebih seperempat jam lamanya kami meneriakkan yel-yel “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!!!” berulangkali, namun masih ada yang melucu di samping gue dengan berteriak melawan arus, alias dia malah meneriakkan “Melati-melati harum dan wangi” dengan diiringi tawa rekan-rekan yang tahu kalau itu adalah lagu dangdut, tiba-tiba gue mendengar letupan rentetan tembakan, gue langsung bertanya teman di samping gue “itu tembakan apa?” “itu tembakan peringatan” jawab rekan tersebut dengan singkat, gue bertanya karena waktu demo menurunkan Soeharto belum mengalami bentrokan yang serius dengan para keparat.

Suasan mulai tanpak tak terkendali ketika gue lihat kendaraan keparat, baik itu Panser dan yang lain sudah mulai menyiramkan air dan kamipun menambah persiapan membasahi handuk, sapu tangan, kain apasaja, bahkan lengan jas almamater dibasahi bagi yang tidak membawa selampik.

Beberapa rekan yang digaris depan memerintahkan duduk dengan suara yang keras sehingga bikin merinding bulu kuduk. Semula bisa bertahan beberapa detik, namun karena kepanikan mendengar rentetan suara tembakan yang hingar binger maka kami melarikan diri ke komplek kampus Atmajaya, hingga jarak satu meter menjelang pintu gerbang Atmajaya kami (kelompok dari RISKA) masih sempat saling berpandangan dan saling mencoba untuk berkoordinasi, sa’at itu pintu gerbang Atmajaya belum sempat dibuka sehingga kami sangat berdesak-desakan bagaikan tragedi Mina kali ya, namun untungnya kami semua satu arah, gue mencoba untuk tenang dan mengingat Allah sedekat-dekatnya ketika gue terjepit kedepan mobil kijang berwarna merah marun yang tidak bisa bergerak lagi karena menyemutnya mahasiswa untuk memasuki pekarangan Atmajaya. Sa’at kejepit ini gue sempat melihat beberapa gerobak abang jualan yang mangkal persis di depan pintu gerbang Atmajaya, begitu pintu gerbang dibuka, gue merasa puas dan kali ini gue panic dan kehilangan kendali untuk mengingat kakak-kakak gue yang cewek, sehingga gue hanya bisa lari mengikuti bang Anto dengan mendahulukan Teh Dewi, dan ketika inilah semua gerobak yang ada di depan pintu gerbang tersebut rata dengan tanah disapu oleh derap mahasiswa yang ingin menyelamatkan diri ke kampus Atmajaya.


Sambil berlari dan berusaha tetap tidak panik kami berlari sambil menutup mulut dan sesekali mata. Alhamdulillah gue, bang Anto dan teh Dewi dapat berlindung di sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih sekitar 6x4m dengan mahasiswa lain yang memadati ruangan ini nyaris seperti susunan ikan dalam kaleng. Dengan mata yang sangat perih karena gas airmata sudah sangat bereaksi, sementara ruangan sangat pengab dan penuh sesak  manusia dan bercampur bau gas airmata. Sejak berlari dari awal mendengar teriakan takbir, dan teriakan itu tetap menggaung hingga kami berada di dalam ruangan kecil ini. Suasana di rauangan ini sangat-sangat menegangkan karena kami tidak tahu apakah keparat ada di luar atau tidak, sebab pintu kami kunci, sementara di sana-sini ada teriakan meminta air, untung bang Anto langsung mengeluarkan arinya dan mengucurkan pada semua kain yang membutuhkan.

Terus terang gue ngak bisa ngungkapin perasaan ketika itu, semua perasaan bercampur baur dan memang semua mata kami seperti menangis dan selalu kami tutupi dengan kain apa saja yang kami bawa yang sudah dibasahi air. Sekitar lima menit adengan ini berlangsung, seorang rekan yang tidak bisa menahan emosi langsung berdiri dan memukul tembok yang terbuat dari tripleks sambil berteriak “KEPARAT!” hingga membuat suara gaduh dengan hasil remukan jebol persis ukuran tinju, dan sa’at itu pula ada rekan lain yang berteriak “Hei kamu masih percaya Tuhan nggak!”, sehingga rekan yang emosi ini  came down dan duduk kembali dengan wajah yang masih beringas dan sangar karena kebetulan agak hitam. Sekitar lima menit kemudian ada rekan dari luar yang berteriak minta dibukakan pintu yang berjarak sekitar 1m dari gue, dan gue lihat akhirnya pintu dibuka dan merasa agak nyaman mendapat udara, setelah pintu dibuka rekan yang memaksa untuk membuka tadi nongol, gue sempat mengenali wajahnya sekilas, sepertinya dari Indonesia bagian Timur, dan ia berteriak dengan suara keras “Ini Musholla ayo keluar, ini tempat sholat!, ayo keluar cepat dan cari tempat yang lebih aman di dalam sana!!!”. Kamipun baru sadar ternyata tempat ini adalah musholla, maka dengan kesadaran kami mematuhi perintah tersebut, kelihatannya dia pengurus Rohis Atmajaya karena dia begitu mengenal tempat tersebut.


Tanpa melihat suasana sekitar kami tetap bergegas menuju ke arah gedung Atmajaya lebih ke arah dalam yang menjauh dari arah pintu gerbang, dan akhirnya kami merasakan suasana sedikit aman, namun gue masih merasa sedih karena kami terpisah, baru sekitar lima menit berikutnya kami menemukan kak Muti, kak Vivi dan dua temannya, kemudian Faisal dan Vita. Faisal bercerita jika ada peluru nyasar yang berdesing dekat kakinya. Di sini kami segera membasahi lagi kain tutup mata sambil mengisi botol kosong dengan air dan mengambil bantuan beberapa kardus Aqua gelas bahkan sesekali kami minum dan saling membantu menyiram mata dengan air tersebut untuk menghilangkan pengaruh gas airmata yang sangat memedihkan mata.

Gue masih tetap sedih karena belum menemukan kak Ana, melihat situasi cukup aman, maka bang Anto mengambil inisiatif untuk mencari kak Ana namun gagal, akhirnya bang Anto bilang sama Faisal untuk mencari juga dan Alhamdulillah kak Ana ditemukan dan Alhamdulillah kami kumpul semua kecuali Ardi yang memang misah sejak awal memasuki barisan orasi.


Setelah kami kumpul semua, gue baru sadar kalau celana jeans hitam yang gue pakai robek di lutut kirinya dengan bentuk sangat persis huruf L dan Alhamdulillah segorespun tidak ada bekas apa-apa dilutut kiri gue.

Kami mengambil posisi di dekat instalasi yang paling jauh dari pintu gerbang, persisnya mendekati belakang kampus Atmajaya yang ada halaman tanah cukup luas, di sini gue melihat ada air seperti embun turun yang ternyata ada warga yang sengaja menyemprotkan air untuk membantu mengatasi iritasi mata yang sangat perih.

Kami bertahan di sini hingga menjelang magrib, sambil duduk istirahat dan memakan mangga yang dibawa kak Ana. Sesekali kami bergantian dua orang-dua orang ke depan untuk memantau situasi, dan tampaknya rekan mahasiswa yang lain masih tetap mengadakan orasi dan seorang rekan mahasiswa ngingatin kami yang memantau orasi dari jauh mengingatkan “kalau ada tembakan pertama segera turun dari pintu gerbang ya!” karena kami melihat sambil menaiki pintu gerbang kampus Atmajaya.

Setelah sampai ke pangkalan kami yang dekat dengan instalasi, gue menyempatkan untuk menelepon nenek dan kak Ana juga menitip untuk ditelponkan ke rumahnya melalui telpon umum koin yang ada di dalam kampus Atmajaya. Sayang gagal karena dua-duanya tidak ada yang mengangkat, sementara barisan antrian di belakang gue sudah kayak ular, bahkan persis di belakang gue ada teman yang sudah nelpon sebelum gue, sudah ngantri lagi di belakang gue sambil menunjukkan selongsong peluru tajam yang ia temukan. Karena gue ketahui sebelumnya ia kelihatan sangat sibuk menelpon dan mejer tentang berita korban maka gue ngalah dan mengurungkan niat nelpon sebab ngantri yang cukup lama.

Begitu adzan maghrib berkumandang, kami memutuskan untuk menunaikan sholat maghrib di musholla rumah sakit Jakarta saja karena lebih nyaman. Usai sholat maghrib kami tetap bertahan di taman yang ada di antara rumah sakit Jakarta dan musholla hingga waktu yang belum ditentukan. Semua mahasiswa berkumpul bergerombol-gerombol duduk-duduk sambil istirahat di rumput taman dan di mana saja. Sambil mendengarkan berita radio di mobil yang sengaja di keraskan suaranya, sesekali gue mendekati mobil tersebut dan menyaksikan seorang rekan yang membawa handycam yang mencoba menyorot sniper yang berada di gedung BRI di seberang jalan, sayang zoomnya kecil sehingga kurang jelas.

Sementara Vita mengambil inisiatif menelpon mamanya untuk menelponkan semua orang tua kami melalui mamanya, sehingga semua kami setor nomor telepon ke Vita untuk menghindari antrian yang panjang di telepon umum.

Sholat Isa pun kami tunaikan tidak lama setelah jamaah pertama. Saat sholat Isa inilah gue menyaksikan dari musholla yang kebetulan dilantai dua ada tambahan mahasiswa dari UI dan lainnya, sepertinya barisan pasukan mereka hampir sepanjang dua kilometer yang memenuhi Jl. Jend. Soedirman.

Setelah sholat Isa kami tetap bertahan di taman yang kebetulan halaman musholla jika dilihat dari lantai satunya, hingga ada provokasi yang membuat kami harus lari ke loby rumah sakit Jakarta akibat adanya indikasi keparat mau mengejar masuk ke lingkungan rumah sakit, ini persis ketika Faisal mencoba memantau situasi dari dekat pintu gerbang rumah sakit Jakarta, namun melihat keadaan gawat maka ia berlari mengarah pada kami yang lagi istirahat, melihat keadaan yang cukup mengkhawatirkan maka kami kabur, walaupun gue sibuk ngumpulin pernik-pernik jam tangan gue yang lagi gue bongkar iseng sambil bersihin Alhamdulillah gue masih sempat nyelamatin replica TITANIC (gelar buat sandal Faisal yang gwuede dan tebal).

Kami lari ke arah pintu rumah sakit Jakarta, bahkan masuk lewat pintu darurat lantai pertama dan di sinilah kami bertahan sambil menyaksikan korban yang datang rata-rata dua menit sekali. Di sini gue terharu dan hampir menangis dua kali, pertama ngelihat Faisal yang nangis mengatakan karena menyaksikan korban mahasiswi yang sangat parah, sehingga kepala korban hampir seperti terbelah. Kedua ketika kak Ana menyuruh gue memberikan susu kedele (yang didapat bang Anto dari petugas ambulance) kepada seorang rekan mahasiswa yang berambut gondrong duduk sendiri dan merunduk, sepintas seperti orang keletihan.


Ketika gue deketin, seorang rekan juga menghampirinya dengan memberi roti, jadi lengkap sudah ada roti, ada susu yang kami tawarkan tidak disentuhnya sama sekali, nafsunya hilang setelah ditinggal temannya untuk selama-lamanya, sambil menangis ia berkata “Gue ngak bisa nolong teman gue!”, gue sangat terharu sekali, akhirnya susu bungkus plastic tersebut gue biarin tergeletak di hadapannya.

Sambil menunggu tanpa kepastian, gue diajak kak Muti untuk melihat ke lantai dua rumah sakit Jakarta ini melalui tangga daruratnya, penasaran aja, sambil menyusuri tangga, akhirnya kami menemukan ruangan yang cocok untuk istirahat dengan luas sekitar 10m2 dengan dua pintu, satunya terkunci dan satunya lagi ternyata pintu instalasi. Akhirnya kak Muti bilang “ini aja buat kita istirahat nanti” sambil kami kembali turun dan bergabung dengan teman yang duduk di tangga lantai satu.

Sampai pukul 23an kami duduk di tangga darurat lantai satu, sambil melihat dari jauh para korban yang selalu datang rata-rata tiga menit sekali dan disambut dengan takbir dan sesekali sholawat. Faisal sengaja berdiri di luar karena ingin melihat korban dari dekat hingga ia sangat terharu sambil menghampiri kami di tangga darurat hanya bisa bercerita ada korban terus, guepun ikut menitikkan air mata, cuma kali ini tidak kelihatan, padahal baru dengar lagu “Sound of  peace” waktu konferensi di Ethiopia gue nangis apalagi ini. 

Sambil tiduran namun tetap tidak nyenyak karena harus siap siaga jika terjadi apa-apa, padahal capeknya minta ampun!. Akhirnya tidak terasa sudah jam dua malam, saat inilah ada rekan yang memberitahukan bahwa semua mahasiswa akan dievakuasi ke UI Salemba. Kami putuskan untuk ikut bergabung karena mereka akan melewati Taman Soeropati, sehingga kami semua bisa pulang ke RISKA. Ternyata niat kami belum dikabulkan Allah karena setelah kami susah payah memasuki bus untuk tetap satu rombongan dengan satu bus, ketika hampir semua mahasiswa berada dalam semua bus dan siap diberangkatkan, jumlah bus ini tidak terhitung, yang jelas dari muara gang yang bermuarakan Jl.Jend.Soedirman hingga jauh ke belakang masih ada bus yang dipenuhi mahasiswa.

Ketika semua mesin bus sudah dipanaskan  diudara dinihari yang cukup dingin itu, tiba-tiba ada isu bahwa dari arah Jl.Jend. Soedirman ada Pam Swakarsa yang mau menyerang. Untuk kesekian kalinya jantungku berdebar dan ikut keluar bus sambil terburu-buru dan berdesakan dan mendengar teriakan dari beberapa mahasiswa untuk tetap tenang. Keluar dari bus kami kembali ke tempat semula di lantai dua belakang ruang operasi di mana seorang dokter yang baik menyuplai supermi rebus/goreng dan roti ketika kami baru menempati tempat ini sekitar jam 11 malam. Disaat perut terganjal supplai sang dokter kami baru ingat Puji yang menghilang. Kami bersyukur saat dibicarakan tiba-tiba Puji muncul dengan tawa khasnya menggendong puluhan nasi bungkus di perut dengan pakaian tanpa dibuka. Sa’at itu pula kembali ceria karena tidak bisa menahan tawa ketika Puji tergopoh-gopoh membawa supply nasi sementara kami baru saja menyantap pemberian dokter.


Kami bertahan di sini hingga jam tujuh pagi hingga kami ditawari oleh beberapa mahasiswa bahwa jika mau pulang ada tronton Marinir yang siap mengantar pulang. Segera tawaran ini kami terima, kamipun memastikan untuk mengemas semua barang dan melangkah dengan gontai menuju Jl.Jend.Soedirman dan memang di sana para Marinir (di masa demo ketika ini Marinir dikenal dekat dengan pendemo karena sikap simpati yang mereka tampilkan) menanyai kami ingin pulang ke mana, semula Marinir mau ke arah UI, namun karena tidak ada yang ke arah sana, sehingga truk Marinir yang satu ini hanya dipenuhi pendemo dari RISKA! Haha.

Dalam perjalanan pulang kami menyaksikan dan melihat keparat yang masih berlapis-lapis menutupi Jl. Jend.Soedirman dari arah utara di mana arah kami pulang “ci-illee kesannya private banget deh” komentar Vita.

Setelah sampai di RISKA si Kum-kum (gelar Setiawan selaku Sekretaris Umum RISKA) masih setia menanti kepulangan kami dan memberitahukan bahwa sudah ditunggu bang Ical di rumahnya.

Benar!, setelah masuk di ruang tamu bang Ical, ruangan itu sudah siap dengan minuman dan makanan untuk sarapan. Sambil sarapan bang Ical ngasih wejangan beberapa pokok fikiran dengan gaya bicaranya yang sangat khas yang terkadang mengundang ketawa dan sesekali bikin yang belum tahu bisa gugup. Setelah merasa cukup dan merasa sangat capek sekali kami pada pulang ke rumah masing-masing sekitar jam 90:00
(di komputerkan 28 January 2000 tengah malam)

 

The Livelihood

It was around early of 80s that I have been started to remember what happened with our family. I was about five years old that recall my daddy's livelihoods. I wrote the “livelihoods” with “s” to emphasize his several livelihood sources I realized nowadays when I work with tsunami survivors in Aceh. At that time I only know how happy I was when I saw my daddy  was coming home from a sub-district capital/market which he used to visit it once in a month or once in two weeks or  it depends on his financial condition to buy our daily needs. He used to be a farmer, shepherd, gravel miner, cut down trees (apparently Indonesian government has not yet have any policy on illegal logging in 80s) for logging and some time as a security guard for election.

As a common villagers, all of our neighbors relatively have blood relationship toward one another. Some are still have a very close blood relationship and some others are extended families. We are very close one another, whatever we and our family have more than needed, it always be shared. Only commodities were not found in our village are commercialized in nearby small shops, others agricultural commodities in our villages we can asked or share one another. One example is a tradition called "Ngadang Duren". Ngadang Duren is typical Jambian especially community in my village terminology. Its means waiting for the Duren falling from three. During the Duren (Duren is a typical South East Asian fruit) season, a family, usually father and son go to a Duren plantation to stay there for one night according to their turn from other families who have the same ancestor lineage either from father or mother side. The Duren never picked up on its three, it must be falling naturally from its tree to have a fresh natural ripe Duren. Mostly Duren trees have been planted by villagers ancestors. In my case, the Durian trees were planted by my father's grandma. For one night we could have a small truck of Duren if during the night was raining and followed by gale. We never commercialize it, once we got home, we divided it into others family, either our neighbors and relatives who have no access to have Ngadang Duren. People in my village at that time have very limited skill in exploiting Duren fruit. At that time, they only utilized it as below purposes;

1. Eat it in fresh
2. Made it into Kolak Duren ( the Duren is cooked with coconut milk and sugar), and serve it with Nasi Ketan or sticky rice.
3. Made it into Tempoyak (the Duren is taken off it bark and store in a jar for about one week until it tests a bit sour), the Tempoyak is one of Jambian traditional cuisine ingredients to kook fish from Batanghari river or fish from swap or paddy field water.
4. It was about 90s people in my village being introduced to make Duren into Lempok or Dodol Duren (the Duren is taken off it bark and kook with sugar and salt).

Duren Fruit

The Duren season always goes together with Duku season. Unlike Duren, Duku has to be picked off it three once it ripe. In 80s I remember that Duku had been started introduced into commercialization. Duku also usually had planted at the same land of the Durian plantation. Villagers ancestors usually planted it together with Duren. Unlike Duren, since Duku was commercialized, once harvesting time came, it usually only core family who will harvest it and sell it to middlemen and share the money to core family and the biggest proportion goes to some one or family who is closest to the ancestor who planted the tree. Having Duku had been commercialized since than, some middle men come to my village in every season. I did not know where they re-sell it, but lately I know that Duku from my village was not familiar in Indonesian capital, instead people only familiar with Duku from Palembang, a neighbor to Jambi province. 

Duku fruit
   
  As a farmer, my dad usually concentrated and work hard with my mom on their paddy field. Its started from "Nyemai" or rice seedling. Having our village is adjacent to Batang Hari river, it looks a typical of villagers make the seedling on bank of the Batang Hari river. I used to follow my dad and mom to do seedling, It was one of my childhood happiest moment in my life. Starting from getting on canoe to get to the river bank at downstream of the Batang Hari at a peace of land belong to my mom inherited from his grandma. I usually touch the river water while my dad and my mom rowing the canoe, it was so unforgettable that I still feel it hitherto. In the seedling site, after my dad and  mom worked hard cleaning the land by lunch, the lunch time was the moment I was waiting for after playing with catapult. The lunch had been provided by my mom in the morning just before we left for canoeing. Nyemai usually lasts for about one week ranging from land clearing up to "Nugal" or make a hole on the cleared land in order line with a sharp point of stick of wood for seedling. Of the unforgettable moments was one upon a time, while my dad and mom were busying with putting the paddy seeds into the holes. I was fishing with a simple rod made of small bamboo and using worms for bait. Surprisingly every single time I put the bait into the water of Batang Hari river, after every about five minutes there was always fish eat the bait. It was last for about half day until I can fill out my mom bucket full of the fishes. The fishes were mostly wild Gurame or called by local as Kaloy as shown below. It was the only exiting fishing for the whole of my life!. I believed that one day an Imam in my village preached that if we donated good thing for needy, God will reward us both during our life and hereafter. I realized that it was God reward us after my dad giving dinner to 50 villagers the nigh before. In Bahasa it called Kenduri or people in my village called it "Mencedo" for inviting others, especially the needy people to eat at our house. Usually followed with praying and recital the Holy Quran preside over by an imam.

The Gurame fish


Once the Nyemai is done, does the villagers rest? no!. While waiting for the seedling growing, they moved to paddy field for field clearing to prepare for last site to plant the rice. Mostly the paddy field also inherited from ancestors after divided accordingly among grand grandchildren. Having mostly Jambi land is plateau, mostly paddy field in my village was depend on rainfall water, there was no any irrigation. Therefore, it really depend on climate situation. The paddy field clearing is called "Ngaut" by villagers. Ngaut sometimes done either by helping each other among neighbors or relatives or hiring some villagers to work together.


While waiting for the seedling growing properly, and Ngaut is done, villagers usually working on fixing pen to protect paddy once it is planted later on. During this moment my dad sometimes took me out to visit our buffalo who are release in wildlife but still around the paddy field about one hour cycling from my village. Once the seedling ready and the paddy field is cleared off the grass, now its time to "Nyabut Semai" or took the seedling out of soil and replanting it into the paddy field. The period of planting the seedling to the paddy field is called "Nandur". Nandur also sometimes done in a group either by hiring people or by helping each other by neighbors or by close relatives. Nandur usually lasts for about one month.

If the Nandur is over, villagers have much time to do others things while waiting for harvesting time. Usually my dad has much time to concentrate on shepherding our buffalo. It does not took much time, my dad used to take me out for about three or four hours a week by cycling to outskirt of our village to feed the buffalo with grass and drink it with salty water. During this free time, usually villagers have time to find out others activities that might add their income. For example, if the Batang Hari river is receding, mostly people mining gravel from the river. Usually the gravels is sold to middlemen either the have in the village, the have from other village or villagers who already success in capital city of Jambi. The middlemen is called Toke in Jambi and mostly in Sumatra.

As part of additional income, my dad, during 80s was doing "Babalok", Babalok is an activity of cutting down trees in forest to sell it to Toke or sawmill in the capital city of Jambi. Usually they do it during drought season and get it transported by rive to the Jambi city once the Batang Hari river is rampaging during rainy season. They do logging by traditional method. A bunch of neighbors and or relatives as a team stay for one or two week and even a month in forest. They carry logistical stock with them during in the forest. Each person has to find out best trees for logging, every findings have to be reported to coordinator of the team for cutting down process. They cut it dawn with traditional tool called "Beliyung", at the time of writing this article, this tool already disappeared in my village. Even I did not find it by Google search engine. Probably I have to find it at Museum in Jambi. Its a kind of hatchet. How do they transport logs from the forest?. Interestingly, they move it by using traditional rail made of woods and transported by Ongkak. Ongkak is made of typical strong palm tree by joining two flatted sides of the palm tree by joining it in the front and the rear by strong wood. The Ongkak is sliding by pulling and pushing it together on the wooden rail and the logs is put on the Ongkak. I also did not find it any more, it already disappeared went along with times by. I hope Jambi government save it in a museum in Jambi. This is the way they transported the logs one by one to nearby tributary of the Batang Hari river. Once the logs collected at the tributary bank, they tied it up one another by rattan and rope while waiting for rainy season. My dad told me that his favorite head of village who was still our relatives and our neighbor one day called me when the was a thunderclap. He asked me what the thunder is going to do and the little me answered by saying that the thunderclap will transport my dad logs to Jambi city for me to have much money. I still recall in once evening welcoming my dad was coming from Jambi city in front of our house, at that moment my dad was standing in front of our house when I opened the door after hearing his sound of greeting. He was standing with his luggage beside him and with other boxes for little me. That was a very exiting moment while welcoming my dad from long way travel and after separated for about a two or three week. Babalok was the biggest income source for villagers at that time before government enacted the law to protect the forest. Fortunately my dad was stop doing logging since I went to elementary school, long before the law was passed by parliament.

Now its time to harvest the paddy. This is a very happy moment for every villagers seeing their paddy produced pithy rice. After harvest, they calculate their result and donate charity for mosque according to Zakat calculation as taught by the Imam. These are portrait of what my dad and our villagers earn living in 80s and 90s.
     
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Arpan Family - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger